Polres Kubu Raya Bangun 16 Sumur Bor, Solusi Air Bersih dan Cadangan Padamkan Karhutla
![]() |
| Foto: Salah Satu Sumur Bor Presisi Oleh Polres Kubu Raya |
KUBU RAYA - Di tengah persoalan air bersih dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Polres Kubu Raya bersama jajaran Polri membangun 16 titik sumur bor yang tersebar di 9 Kecamatan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Sumur-sumur tersebut tidak hanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Beberapa titik juga dibangun di wilayah rawan kebakaran agar dapat menjadi sumber air cadangan saat karhutla terjadi.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Polres Kubu Raya membantu masyarakat menghadapi dua persoalan yang saling berkaitan: kebutuhan air bersih dan ancaman kebakaran lahan.
Respons Cepat Penyaluran Air Bersih
Sehari sebelumnya, Polres Kubu Raya juga menyalurkan 6.000 liter air bersih kepada sekitar 170 kepala keluarga di Dusun Teluk Lais sebagai respons atas kesulitan warga memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade mengatakan pembangunan sumur bor merupakan bentuk kepedulian Polri untuk membantu masyarakat memperoleh sumber air berkelanjutan.
“Pembangunan sumur bor ini merupakan bentuk kepedulian Polri bersama masyarakat. Kami ingin membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga, terutama di wilayah yang membutuhkan sumber air tambahan,” kata Ade, Minggu (6/9/2026) sore.
Menurutnya, keberadaan sumber air juga memiliki fungsi strategis di wilayah rawan karhutla.
“Air bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Di beberapa lokasi, sumur bor ini juga dipersiapkan sebagai sumber air cadangan untuk mendukung penanganan karhutla. Harapannya, manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dalam kondisi normal maupun ketika terjadi kebakaran,” ujarnya.
Dari Pesantren hingga Kawasan Rawan Karhutla
Sebanyak 16 titik sumur bor tersebar di 9 kecamatan. Pembangunannya menyasar masyarakat, pondok pesantren, masjid, sekolah, hingga kawasan yang memiliki risiko kebakaran.
Beberapa di antaranya:
1. Pondok Pesantren Nurul Anwar Al Mahrusiyah, Desa Sungai Malaya, Kecamatan Sungai Ambawang - Sudah 100%, air sudah dimanfaatkan santri dan warga
2. Pondok Pesantren Darul Amin, Desa Mekar Sari, Kecamatan Sungai Raya
3. Yayasan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya
4. Dusun Siak, Desa Durian, Kecamatan Sungai Ambawang. Fungsi ganda: kebutuhan warga & cadangan karhutla
5. Masjid Al-Kharamah, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya
6. Belakang Masjid Ponpes Darul Hidayah, Desa Rasau Jaya Satu, Kecamatan Rasau Jaya
7. TPA Ashabul Kahfi, Desa Radak Baru, Kecamatan Terentang
8. Dusun Harapan Baru, Kecamatan Kubu
9. Dusun Betutu Raya, Desa Punggur Kapuas, Kecamatan Sungai Kakap
10. Dusun Cahaya Timur, Desa Teluk Pakedai Hulu, Kecamatan Teluk Pakedai. Khusus cadangan karhutla
11. Dusun Batu Ampar, Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar
12. Dusun Pelita Jaya, Desa Kuala Mandor B, Kecamatan Kuala Mandor B
13. SDN 15 Kubu, Desa Ambawang, Kecamatan Kubu
14. Ponpes Darudda'wah Walhidayah, Desa Air Putih, Kecamatan Kubu
15. Dusun Harapan Baru, Parit Bujang Kerinci, Desa Seruat Tiga, Kecamatan Kubu. Kawasan rawan kebakaran
Bukan Sekadar Mengebor Tanah
Ade menegaskan pembangunan sumur bor tidak berhenti pada proses pengeboran. Setelah air tersedia, pemanfaatannya diharapkan memberikan manfaat langsung dan dijaga bersama masyarakat.
“Semangatnya adalah Polri bersama masyarakat. Fasilitas ini dibangun untuk masyarakat dan diharapkan dapat dijaga serta dimanfaatkan bersama,” katanya.
Ia menambahkan, kebutuhan air bersih tidak bisa diselesaikan dengan respons sesaat. Karena itu, sumber air permanen diharapkan mengurangi ketergantungan warga terhadap pasokan air saat kondisi sulit.
Di sisi lain, sumber air di kawasan rawan kebakaran memiliki nilai tambah. Ketika api muncul, jarak antara titik kebakaran dan sumber air sering menjadi kendala pemadaman.
“Harapan kami, keberadaan sumur bor ini benar-benar memberikan manfaat jangka panjang. Ketika masyarakat membutuhkan air, sumbernya tersedia. Ketika terjadi karhutla, sumber air tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk membantu penanganan,” ujar Ade.
Pembangunan 16 titik sumur bor ini menunjukkan penanganan karhutla tidak hanya soal memadamkan api. Ketersediaan air menjadi bagian dari kesiapsiagaan sebelum api muncul.
Di tengah tanah yang mengering, sumur bor ini diharapkan menjadi titik baru tempat masyarakat menggantungkan kebutuhan paling dasar: air untuk bertahan hidup dan air untuk menghadapi api.
Penulis: Tim_Jm Editor: R. Hermanto

Posting Komentar