Festival Literasi Kapuas Dokumentasikan Narasi Lokal dan Lahirnya Penulis Cilik Pesisir

Foto: Festival Literasi Kapuas Dokumentasikan Narasi Lokal dan Lahirnya Penulis Cilik Pesisir 

PONTIANAK - Upaya menjaga narasi masyarakat pesisir Sungai Kapuas diwujudkan melalui program Krida Kapuas Karya Antologi Pesisir: "Ungkapan Anak-Anak Sungai". Puncak kegiatan ditandai dengan Festival Literasi Kapuas yang digelar di Kampung Caping, Pontianak, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Festival ini menjadi ruang apresiasi atas proses pendampingan literasi yang berlangsung lebih dari satu bulan. Program tersebut melibatkan anak-anak usia 9 hingga 15 tahun yang tinggal di kawasan pesisir Sungai Kapuas.

Ketua Penyelenggara, Dimas Angin, mengatakan program ini berangkat dari kekhawatiran terhadap hilangnya cerita dan narasi lokal seiring cepatnya perubahan zaman.

“Zaman sekarang sudah serba cepat. Kalau tidak ada yang meneruskan dan menjaga narasi lokal ini, maka narasi tersebut akan hilang terbawa oleh zaman. Untuk itulah hadir sebuah Krida yang bernama Kapuas,” ujar Dimas.

Ia menjelaskan, peserta tidak hanya dilatih menulis, tetapi juga mengikuti kegiatan kreatif seperti penggalian ide, pembuatan peta pikiran, pengembangan alur cerita, ilustrasi, hingga penyuntingan. Pendampingan juga dilakukan melalui kegiatan mendongeng dan eksplorasi lingkungan agar proses belajar tidak membosankan.

Dari sekitar 30 anak yang mendaftar di awal, proses pendampingan berhasil melahirkan 10 cerita anak yang dibukukan dalam Antologi Kapuas. Karya tersebut dilengkapi ilustrasi untuk memperkuat pengalaman para penulis cilik.

Rangkaian Festival Literasi Kapuas diisi dengan sambutan Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat dan Bunda Literasi Kota Pontianak, pemutaran video kilas balik, pengukuhan Penulis Cilik Kampung Caping, wicara penulis cilik, pameran, penyerahan buku antologi, panggung seni dan sastra terbuka, hingga bioskop keliling bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, Dr. Uniawati, S.Pd., M.Hum., mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan buku, tetapi juga mendokumentasikan pengalaman dan kekayaan budaya anak-anak pesisir Sungai Kapuas.

“Ini merupakan ruang untuk mengapresiasi proses yang telah mereka laksanakan dengan melibatkan anak-anak yang hidup di pesisir Sungai Kapuas,” ujar Uniawati.

Ia menekankan pentingnya keberlanjutan program literasi. Uniawati mendorong agar ruang-ruang seperti Kampung Caping terus dimanfaatkan sebagai tempat bertemunya anak, komunitas literasi, dan Duta Bahasa.

“Anak-anak pesisir memiliki kekayaan pengalaman yang dapat menjadi sumber cerita. Kehidupan di sekitar sungai dan tradisi masyarakat merupakan bagian dari narasi lokal yang penting untuk dicatat,” katanya.

Program Krida Kapuas merupakan bagian dari program Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026. Karya antologi ini rencananya akan dibawa ke tingkat nasional sebagai bentuk inovasi peningkatan literasi generasi muda.

Dengan lahirnya Antologi Kapuas, narasi anak-anak pesisir Sungai Kapuas kini telah terdokumentasi dalam bentuk karya tulis yang dapat dibaca, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (JM)

Editor: R. Hermanto

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Festival Literasi Kapuas Dokumentasikan Narasi Lokal dan Lahirnya Penulis Cilik Pesisir
  • Festival Literasi Kapuas Dokumentasikan Narasi Lokal dan Lahirnya Penulis Cilik Pesisir
  • Festival Literasi Kapuas Dokumentasikan Narasi Lokal dan Lahirnya Penulis Cilik Pesisir
  • Festival Literasi Kapuas Dokumentasikan Narasi Lokal dan Lahirnya Penulis Cilik Pesisir
  • Festival Literasi Kapuas Dokumentasikan Narasi Lokal dan Lahirnya Penulis Cilik Pesisir
  • Festival Literasi Kapuas Dokumentasikan Narasi Lokal dan Lahirnya Penulis Cilik Pesisir

Posting Komentar

Ad
Ad
Ad