Cegah Abrasi, KKN UMP dan Gemawan Tanam 391 Mangrove di Mempawah Timur

Foto: KKN UMP dan Gemawan Tanam 391 Mangrove di Mempawah Timur

MEMPAWAH - Upaya menjaga ekosistem pesisir kembali dilakukan melalui aksi penanaman mangrove di Desa Sungai Bakau Kecil, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Minggu (9/8/2026). Sebanyak 391 bibit mangrove ditanam dalam kegiatan yang digagas oleh Kuliah Kerja Nyata / KKN Kelompok 11 Universitas Muhammadiyah Pontianak / UMP Tahun 2026 bersama Gemawan.

Kegiatan ini tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi lintas pihak. Turut hadir inTERRAction, WALHI Kalbar, Teraju Foundation, mahasiswa KKN UMP, mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan / KKL Institut Agama Islam Negeri / IAIN Pontianak, Pemerintah Desa, serta masyarakat Desa Sungai Bakau Kecil.

Kegiatan dibuka oleh Haqqi Wirakaryadi, Kasi Pemerintahan Desa Sungai Bakau Kecil yang mewakili Kepala Desa. Hadir pula Eka Kurniawan, S.Si.,M.Si selaku Dosen Pembimbing Lapangan / DPL KKN UMP dan Hermawansyah dari Gemawan.

Ketua KKN Kelompok 11 UMP, Muhammad Hanif Mustaqim, mengatakan penanaman mangrove merupakan bentuk aksi nyata mahasiswa menjaga keberlanjutan kawasan pesisir Desa Sungai Bakau Kecil, khususnya dari ancaman abrasi.

“Tujuan utama kita hari ini adalah aksi nyata melestarikan pesisir Desa Sungai Bakau Kecil sekaligus mencegah abrasi laut,” kata Hanif.

Menurutnya, sebanyak 391 bibit mangrove ditanam dengan dukungan 147 batang bambu sebagai penyangga. Ia menyebut kegiatan tersebut tidak mungkin berjalan tanpa dukungan pemerintah desa, kampus, organisasi masyarakat sipil, mahasiswa, dan masyarakat setempat.

“Mari jadikan keringat hari ini sebagai investasi untuk kelestarian alam desa kita,” ujarnya.

Abrasi dan Masa Depan Pesisir

Dewan Pengurus Gemawan, Hermawansyah, mengatakan isu perlindungan pesisir di Sungai Bakau Kecil memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Ancaman abrasi di kawasan pesisir desa tersebut tergolong tinggi sehingga upaya pemulihan dan perlindungan ekosistem mangrove perlu dilakukan secara konsisten.

Hermawansyah yang merupakan putra asli Sungai Bakau Kecil menyebut Gemawan memiliki sejarah pendampingan masyarakat di desa tersebut. Sebelumnya, Gemawan pernah mendampingi pemberdayaan masyarakat gambut melalui program Badan Restorasi Gambut dan Mangrove / BRGM. Dalam beberapa tahun terakhir, Gemawan bersama Kitabisa.com juga mengembangkan pengelolaan tambak sekaligus pemberdayaan masyarakat sebagai insentif bagi nelayan yang berkomitmen menjaga ekosistem pesisir.

“Ancaman abrasi pesisir sangat tinggi. Sementara proses suksesi alaminya akan berlangsung lama,” ujar Hermawansyah.

Ia menjelaskan, ke depan perlu perhatian terhadap dampak proses suksesi alami hingga munculnya fenomena yang dikenal masyarakat sebagai "tanah tumbuh". Kemunculan daratan baru berpotensi menjadi sumber persoalan apabila tidak dikelola dan disepakati sejak awal oleh pemerintah desa bersama masyarakat.

“Kalau dikelola dengan baik, daratan baru ini bisa diakses oleh masyarakat lokal,” katanya.

Wawan, sapaan akrabnya, menilai keterlibatan mahasiswa dalam penanaman mangrove merupakan langkah positif yang perlu dikembangkan menjadi gerakan lebih luas. Sebelumnya Gemawan juga telah menanam mangrove di desa ini bersama mahasiswa Silva Indonesia, F-MIPA Untan, Lantamal XII, dan AJI Pontianak.

“Harapannya, program ini bisa berkelanjutan dan berskala masif, karena mangrove adalah pilar kehidupan laut. Jika mangrove rusak, udang dan kepiting tidak akan ada,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan mangrove tidak hanya berkaitan dengan perlindungan garis pantai, tetapi juga menopang keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat pesisir, termasuk nelayan.

Karena itu, ia mendorong agar aksi penanaman tidak berhenti sebagai kegiatan mahasiswa selama masa KKN, tetapi menjadi bagian upaya jangka panjang yang melibatkan pemerintah desa, masyarakat, organisasi masyarakat sipil, dan perguruan tinggi.

Sementara itu, Eka Kurniawan selaku DPL KKN UMP mengapresiasi dukungan pemerintah desa dan berbagai organisasi yang membantu mahasiswa merealisasikan kegiatan tersebut.

“Mahasiswa UMP bergerak dari ide kecil namun menghasilkan dampak yang besar bagi kehidupan pesisir,” katanya.

Eka berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah masa KKN Kelompok 11 berakhir. Keberlanjutan program dapat dilakukan oleh mahasiswa periode berikutnya maupun masyarakat setempat.

“Harapan kami, ini tidak hanya sebatas mahasiswa kami saja, tetapi bisa berlanjut oleh mahasiswa KKN periode berikutnya atau kelompok masyarakat lainnya agar program pencegahan abrasi ini bisa meluas dan berkesinambungan,” ujarnya.

Aksi penanaman 391 bibit mangrove di Sungai Bakau Kecil bukan sekadar kegiatan penghijauan. Ini menjadi titik temu antara pengetahuan mahasiswa, pengalaman masyarakat, kerja organisasi masyarakat sipil, serta dukungan pemerintah desa dalam menghadapi persoalan ekologis yang menyentuh masa depan kawasan pesisir.

Di tengah ancaman abrasi dan perubahan bentang alam pesisir, keberadaan mangrove menjadi bagian penting mempertahankan ruang hidup masyarakat. Menanam mangrove bukan hanya tentang menanam pohon hari ini, tetapi tentang merawat ekosistem dan memastikan pesisir tetap menjadi ruang hidup bagi generasi yang akan datang. (Izhar)

Editor: R. Hermanto

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Cegah Abrasi, KKN UMP dan Gemawan Tanam 391 Mangrove di Mempawah Timur
  • Cegah Abrasi, KKN UMP dan Gemawan Tanam 391 Mangrove di Mempawah Timur
  • Cegah Abrasi, KKN UMP dan Gemawan Tanam 391 Mangrove di Mempawah Timur
  • Cegah Abrasi, KKN UMP dan Gemawan Tanam 391 Mangrove di Mempawah Timur
  • Cegah Abrasi, KKN UMP dan Gemawan Tanam 391 Mangrove di Mempawah Timur
  • Cegah Abrasi, KKN UMP dan Gemawan Tanam 391 Mangrove di Mempawah Timur

Posting Komentar

Ad
Ad
Ad