KAPUAS HULU - Gemawan kembali menggelar kegiatan Workshop Diseminasi Hasil Riset dan Praktik Modul Pembelajaran Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Menjaga Hutan, Lingkungan, dan Ketangguhan Iklim di Kalimantan Barat. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari di Rumah Panjang Madang, Desa Menua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu.
Kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan hasil riset terkait kepemimpinan perempuan muda, sekaligus membagikan praktik baik yang telah tumbuh di tingkat desa. Selain itu, workshop ini juga menjadi ruang penguatan kapasitas peserta melalui uji coba modul pembelajaran yang disusun berbasis pengalaman lokal masyarakat.
Rahma, pegiat Gemawan, menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan peserta dari tiga dusun di Desa Menua Sadap, yakni Dusun Kalayam, Dusun Karangan Bunut, dan Dusun Sadap. Peserta yang terlibat terdiri dari perempuan muda serta ibu-ibu yang selama ini aktif dalam kehidupan sosial dan pengelolaan lingkungan di desa.
“Selama dua hari, kegiatan diisi dengan workshop dan uji coba modul yang dilaksanakan di Rumah Panjang Madang. Diskusi berlangsung aktif, membahas isu perubahan iklim, kesetaraan gender, serta peran strategis perempuan muda dalam upaya mitigasi perubahan iklim di wilayahnya,” ujar Rahma.
Rahma yang juga selaku Program Manager Gemawan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian uji coba modul di beberapa wilayah di Kalimantan Barat. Ia berharap, modul yang dikembangkan dapat menjadi alat pembelajaran yang relevan dan aplikatif bagi perempuan muda, khususnya di Kapuas Hulu.
“Ini merupakan wilayah ketiga pelaksanaan workshop dan uji coba modul. Kami berharap modul ini benar-benar bermanfaat dan dapat memperkuat peran perempuan muda dalam memimpin serta menjaga wilayahnya, terutama dalam menghadapi krisis iklim,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Gemawan menargetkan sejumlah capaian penting, di antaranya tersosialisasinya hasil riset kepada masyarakat dan pemangku kepentingan, teridentifikasinya praktik-praktik baik dari tiga dusun sebagai model pembelajaran, serta terujicobanya modul yang akan disempurnakan berdasarkan masukan peserta.
Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kapasitas peserta dalam memahami kepemimpinan perempuan muda berbasis lingkungan, memperkuat jejaring kolaborasi lintas wilayah dan sektor, serta menghasilkan rekomendasi strategis untuk keberlanjutan program pasca Reversing Environmental Degradation in Africa and Asia (REDAA).
Dengan pendekatan berbasis pengalaman lokal, Gemawan menegaskan bahwa perempuan muda memiliki peran penting sebagai aktor perubahan dalam menjaga hutan, lingkungan, dan membangun ketangguhan komunitas menghadapi krisis iklim di tingkat tapak. (Izhar)
