Gemawan Salurkan Air Layak Konsumsi untuk Warga Terdampak Kekeringan dan Karhutla di Punggur Besar dan Punggur Kecil
![]() |
| Foto: Warga Punggur Besar dan Punggur Kecil Berbondong-bondong Mengambil Air Bersih Yang Disalurkan Gemawan Kalbar |
KUBU RAYA - Perkumpulan Gemawan menyalurkan bantuan air bersih layak konsumsi bagi kelompok perempuan dan masyarakat terdampak kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Punggur Besar dan Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Penyaluran dilakukan di Jalan Parit Sarim, Desa Punggur Besar, pada Kamis (24/09/2026), dan Jalan Parit H Maksum, Desa Punggur Kecil, pada Jumat (25/09/2026). Masing-masing wilayah menerima 2.000 liter air bersih yang bersumber dari Air Gunung Peniram.
Di kedua lokasi, warga telah mengantre sejak pagi dengan membawa galon, jerigen, hingga ember. Di Punggur Besar, penyaluran dimulai pukul 09.00 WIB dan seluruh air habis tersalurkan dalam waktu sekitar dua jam. Warga membawa dua hingga tiga galon berkapasitas 19 liter untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
Bantuan ini disalurkan di tengah kondisi sumber air warga yang semakin terbatas. Cadangan air hujan yang menjadi sumber utama telah habis akibat kemarau panjang. Parit di sekitar permukiman mulai mengering dan airnya menjadi asin.
Di Desa Punggur Besar, warga bahkan menggunakan tempayan penampungan air hujan yang sebelumnya telah kosong untuk menampung bantuan air bersih.
Samunah, Ketua Kelompok Perempuan Maju Bersama, menyampaikan warga kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.
“Alhamdulillah senang dengan bantuan air konsumsi ini, karena tampungan air hujan sudah lama habis, mau ngantri galon pun susah, parit depan rumah juga sudah kering jadi airnya asin bahkan buat cuci sayur jak ndak bisa,” ujar Samunah.
Menurutnya, bantuan air yang masuk sebelumnya lokasinya jauh sehingga warga Parit Sarim sering tidak kebagian.
“Buat minum jadinya kami beli mineral gelas itu pun langka nyarinya,” tambahnya.
Kondisi serupa dirasakan warga Desa Punggur Kecil. Air hujan yang sempat tertampung belum dapat dimanfaatkan karena tercampur endapan abu sisa karhutla sehingga berwarna kecokelatan. Untuk MCK, warga masih mengandalkan air parit yang sudah asin.
Zainab, warga Desa Punggur Kecil, mengatakan kondisi tersebut mengganggu aktivitas harian.
“Kalau buat MCK kami pakai air parit depan rumah, itupun airnya sudah asin karena surut jadi mandi badan terasa lengket, kalau buat nyuci piring bahan stainless jadi berkarat,” ujar Zainab.
Keterbatasan air juga menambah beban ekonomi. Kelangkaan galon isi ulang membuat warga beralih ke air kemasan bermerek yang lebih mahal.
Nazela, Ketua Kelompok Generasi Hijau Muda Punggur Kecil, mengungkapkan warga bisa menghabiskan Rp20.000 per hari hanya untuk air minum.
“Kami sangat merasa terbantu dengan adanya air bersih yang diberikan secara gratis. Harapan kami agar ada kepedulian pemerintah terhadap ketersediaan air bersih, karena air adalah sumber penghidupan terbesar,” tegasnya.
Krisis juga berdampak pada ekonomi. Saniyeh, anggota Kelompok Perempuan Maju Bersama di Punggur Besar, mengatakan tanaman pinang tidak berbuah, padi belum bisa ditanam, cabai dan sayur mati.
“Karena tanaman mati, kami harus membeli sayur dengan harga yang melonjak jauh dari biasanya. Semoga hujan bisa segera turun,” harap Saniyeh.
Penyaluran ini diharapkan dapat meringankan kebutuhan harian warga sembari mendorong perhatian terhadap pemulihan sumber air berkelanjutan.
Penulis: Izhar Editor: Robi

Posting Komentar