Kalbar di Ambang Lompatan Energi Bersih

Foto: Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Dr. Muhammad Kholid Syeirazi, M.Si., didampingi Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan, S.H., serta Rektor UNU Kalbar Prof. Dr. Sukino, M.Ag

PONTIANAK – Dorongan kuat untuk meninggalkan energi fosil dan beralih ke energi baru terbarukan (EBT) mengemuka dalam seminar di Hotel Golden Tulip Pontianak, Sabtu (18/4).

Seminar menghadirkan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Dr. Muhammad Kholid Syeirazi, M.Si., Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan, S.H., serta Rektor UNU Kalbar Prof. Dr. Sukino, M.Ag.

Dalam paparannya, Dr. Kholid menegaskan Indonesia tidak bisa terus bergantung pada energi fosil yang cadangannya kian menipis dan berdampak buruk bagi lingkungan. Ia menyebut cadangan minyak nasional tersisa 11 tahun, gas bumi 14 tahun, dan batu bara sekitar 36 tahun.

“Jika tidak segera dilakukan percepatan transisi energi, risiko krisis energi bisa terjadi dan berdampak pada stabilitas nasional,” ujarnya.

Sebagai solusi, pemerintah mendorong teknologi rendah karbon seperti carbon capture and storage (CCS) untuk menangkap emisi karbon dan menyimpannya kembali ke perut bumi. Meski masih mahal, teknologi ini diyakini akan semakin ekonomis seiring berkembangnya pasar energi terbarukan.

Dr. Kholid juga menekankan pentingnya edukasi energi sejak dini, khususnya bagi mahasiswa. Menurutnya, indikator kemajuan bangsa tidak hanya dari besarnya konsumsi energi, tetapi dari efisiensi dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

“Semakin efisien penggunaan energi, semakin tinggi kompleksitas dan kualitas ekonomi suatu negara,” jelasnya.

Kalimantan Barat dinilai potensial untuk energi surya karena berada di jalur khatulistiwa. Namun pemanfaatan PLTS masih terkendala investasi, teknologi, dan penyimpanan energi.

“PLTS harus didukung sistem baterai agar dapat menyuplai listrik secara stabil, termasuk saat malam hari ketika beban puncak terjadi,” tambahnya.

Kontribusi PLTS dalam bauran energi nasional baru sekitar 3 persen. Hal ini dipengaruhi harga energi fosil yang masih relatif murah karena subsidi, sehingga energi bersih belum sepenuhnya kompetitif. Karena itu, ia mendorong rasionalisasi subsidi energi dengan mengalihkan dukungan dari energi fosil ke energi hijau.

Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyampaikan, Pemkot mulai mendorong penggunaan energi terbarukan, salah satunya lewat pemasangan lampu jalan tenaga surya.

“Edukasi kepada masyarakat terus kami lakukan agar penggunaan energi bersih semakin meningkat,” katanya.

Selain surya, potensi energi nuklir juga diperhitungkan. Kalimantan Barat, khususnya Melawi, memiliki cadangan uranium yang berpotensi untuk pengembangan PLTN di masa depan.

Secara nasional, Indonesia menargetkan bauran EBT 70 persen pada 2060. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi pemerintah, swasta, akademisi, hingga masyarakat.

Rektor UNU Kalbar Prof. Dr. Sukino menegaskan perguruan tinggi punya peran strategis mendukung pengembangan energi bersih, meski saat ini masih skala terbatas.

“Kolaborasi menjadi kunci utama dalam mempercepat transisi energi di daerah,” ujarnya.

Seminar ini diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya mahasiswa, tentang pentingnya energi yang efisien dan ramah lingkungan demi masa depan berkelanjutan. (Jm)


Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Kalbar di Ambang Lompatan Energi Bersih
  • Kalbar di Ambang Lompatan Energi Bersih
  • Kalbar di Ambang Lompatan Energi Bersih
  • Kalbar di Ambang Lompatan Energi Bersih
  • Kalbar di Ambang Lompatan Energi Bersih
  • Kalbar di Ambang Lompatan Energi Bersih

Posting Komentar

Ad
Ad
Ad